Jangan main-main dengan tuhan.
Jika tuhan ikut dalam permainan yang kalian (manusia) buat, maka kalian tidak pernah mengerti arti dari sebuah kemenangan.

Untittle

Advertisements

Reff*

 

Tapi sayang, sayang sayang seribu kali sayang…

Kemanakah risalahku kualamatkan

tlah kuterima suratmu yang lalu

penuh sanjungan kata merayu

syair dan pantun tersusun indah sayang

bagaikan sabda fatwa pujangga

kan kusimpan suratmu yang itu

bak pusaka yang sangat bermutu

walau kita tak lagi bersua sayang

cukup sudah tandamu setia

Back To Reff*

terimalah jawabanku ini

hanyalah doa restu illahi

moga lah dek kau tak putus asa sayang

pasti kelak kita kan berjumpa…..

Fatwa Pujangga

9 oktober 2005

berlari terus berlari menjinjing bejana kecil sarat muatan..

gadis2 kecil berlari di pinggir sungai untuk mencari arti hidup yg akan dan sedang dia lewati..

demi kurcaci kecil kala terbangun dari mimpi tingginya, kini aku berani mengucap janji sakral dengan mahar suci yg kau jaga sampai halal nanti, tp jangan sampai mati.

“dis, berpuluh jam lalu kita bertemu. sudah berpuluh jam aku menyimpan, sepuluh jam waktuku untuk meyakinkan bahwa inilah akhir atau awal menuju bahtera sucimu”

“dis, nokhtahmu sungguh berarti walu sedikit terbuka untuk ku meski hanya sesaat'”

“dis, aku selalu mencari titik lemah terkecil dr cinta, sehingga yg tersisa hanya yg besar. agar aku tidak merasa bersalah, karena cinta terbesarlah yg menjadi penyebabnya.”

“dis, kau terlalu klise untuk ku andaikan, tapi terlalu sayang untuk tidak. tiap hembusan nafasmu selalu ada di setiap rongga nafasku, sesak, penuh olehmu.”

“dis, bangunkan aku kala mimpiku berakhir dan ceritakan apa yg terlewat dari tidurku. karena waktu terus berjalan dan bumi masih berputar. cari dan temukan yang kau suka, dan ceritakan kembali untuk ku.”

berseri penuh artilah

berlarilah terus berlari

bermimpilah tanpa takut,

selalu…

13 november 2005

dengan tangis dan kecewa aku terpaksa melepasmu, disinilah terakhir kita bertemu.

Dis, disini kau menangis, derai air matamu basah membasahi pipimu, menetes menghujam bumi. aku yg masih tak tau arti dari tangismu saat itu hanya berusaha menenangkanmu. tp tidak. dis kamu terus menangis, aq memohon untukmu saat itu. aq hanya berharap kmu tidak menangis lagi, lihatlah bunga2 akan layu jika kamu terus menangis.

Dis, akhir pekan ini kusadari sudah semua tangisanmu, sangat terlambat bagiku.

Dis, seandainya kau masih bisa bermimpi, satukan lagi mimpiku bersama dengan mimpimu.

Dis, bangun hari masih panjang kita nikmati semua indahnya, singkirkan semua aral.

Dis, ingat janjiku yg lalu? saat kita pertama bertemu dan mengenalkan namaku padamu, tp kmu hanya diam. lalu aku berjanji padamu untuk memberimu taman yg indah yang akan kamu rawat hingga berbunga.

Dis, lihatlah taman ini. taman ini sudah janji, rawatlah, aku sudah lelah membuatnya untukmu.

Dis, sadarlah..

ini pertama kali aku merasa sakit yang tak terperi, semua luluh begitu saja, malam terasa panjang dan sepi, semua membisu. perlahan air mata terus menetes, tiap kali aku seka dia menetes lagi, terus berulang cepat dia datang.

Tapi kau!!?

saat terakhir kita bertemu aku merasa ada yg aneh, kereta sore tak melintas seperti biasa. sore itu kau sengaja memberiku isyarat yang sulit aku cerna.

kau sempat bilang

“jangan tangisi hari ini, karena semua berlalu begitu saja. Tetaplah tersenyum bahagiakan hidupmu meski bunga tak bersemi lagi”

kau juga berbisik dengan kata-kata mu tanpa sesal

“bila bunga tak bersemi lagi, cari dan rawat bunga yang masih bisa bersemi. dialah yang akan mewangikan hidupmu nanti”

Dis, pagi-pagi ini aku masih ingin bermain-main denganmu. sampai kapan kau terus tertidur?

Dis, andai kau tahu hidupku saat ini, hidupku sangatlah kacau, aku menangis mengiba berharap ini semua hanyalah mimpi.

Dis,…

4 oktober 2006

Dis, malam tidaklah cocok untukmu, pulanglah sudah larut. kau lebih cocok berada diantara embun-embun pagi yang berkumpul di ujung daun seladi.

malam ini masih sama dengan malam-malam lain, dingin, gelap tanpa sinar, dan sepi.

sampai besok saat kelopak bunga terbuka disitu aku merasa kau dekat dan nyata, meski tak kasat.

Dis, aku masih disini menantimu.

5 november 2005

Dis, malam ini telah aku bingkai menjadi satu bentuk yang utuh meski tak sesempurna dulu.

Dis, serpihan yg hilang akan tetap hilang, tapi tidak di imaji.

Dis, aku selalu memikirkanmu. imajinasiku melayang, melukis wajah, kubuat tubuhmu nyata. ketika tersadar kau tetap tak terengkuh olehku.

Dis, disisimu semua akan nyata. terkumpul dan menjadi satu karya indah yang tak lekang oleh waktu, walau usia terus mengikis.

Dis, ini bingkai terakhir kita, nyata dan sangat nyata meski tak tersentuh imaji dan waktu.

Dis, kapan semua bisa terulang tanpa menunggu esok?

Dis, mimpilah tentang bunga, bunga penghias lelapnya umat, bunga yang tak layu meski adelweis mengering. dan kau lah bungaku tanpa cela.

selamat tidur dis, aku sudah lelah, aku akan mengenangmu dan akan aku ceritakan ini untuk penerusku esok. bahwa sebelum aku memetik bunga yg sekarang, dulu aku mempunyai bunga yg indah, bersih, bersinar tanpa cela..

selamat tinggal dis. lelaplah bersama malaikat-malaikat bijak disana..

Dis